Selamat Datang di Blog yang Sederhana ini

Selamat Datang di Blog yang Sederhana ini
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 April 2012

Iblis Setitik, Rusak Manusia Sebelanga


 
Dosa selalu dianggap sesuatu yang di luar, semacam godaan. Tak heran jika iblis atau setan atau apapun namanya, seringkali dianggap kambing hitam atas terjadinya dosa. Iblis dianggap provokator. Ya Tuhan, lindungi aku dari godaan setan dan iblis yang terkutuk. Begitulah doa singkat yang selalu kita ucapkan setiapkali kita sedikit merasa gentar dalam iman, merasa ingin kebaikan dan keteguhan. Lantas sedekat apakah iblis dengan kita? Sedekat hela napaskah? Seperti apakah bentuknya? Semacam hasratkah? Adakah iblis sebagai musuh nyata di luar manusia? Ataukah ia adalah bayangan kita sendiri?
Bayangan? Ya, bayangan. Ia muncul karena manusia berada diantara cahaya dan kegelapan. Ia bukan cahaya, bukan pula kegelapan. Ia diciptakan dari potensi keduanya. Jangan heran jika ada manusia yang (memilih) baik, dan ada manusia yang (memilih) jahat. Semua itu tergantung kehendak-diri, hasrat diri. Kelak manusia membangun hukum, aturan, undang-undang dan lain sebagainya. Itulah yang membedakannya dengan binatang.
Kebebasan hasrat manusia sudah ditempatkan pada aturan dan hukum yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri. Jika hasrat dibiarkan seenaknya melanggar, maka itulah dosa. Dosa adalah pilihan. Jika kita memilih hal yang buruk, maka buruklah kita. Kejahatan lahir karena manusia begitu lemah mengatur dirinya sendiri. Dosa lahir karena kita ceroboh memahami dan mengendalikan keinginan diri. Hasrat tanpa aturan dan cara main yang baik, adalah hasrat iblis. Hawa nafsu tanpa filterisasi, sumber kejahatan, rahim lahirnya iblis.
Kita sendirilah yang menginginkan dosa dan kesalahan. Kitalah yang melahirkan dan membesarkan iblis. Iblis adalah nyala api dalam diri. Siapa yang menyalakan api iblis dalam diri, dialah yang kalah. Siapa yang menuruti hawa nafsu, dialah yang akan melanggar banyak hal. Hubungan sebab-akibat itulah yang ingin menjelaskan tentang dosa dan iblis. Iblis adalah metafor. Ia adalah kejatuhan, “nyala kegelapan”.
Kitalah yang memproduksi iblis, dan pada gilirannya ia akan lebih berkuasa atas diri kita. Seperti halnya manusia yang memproduksi mesin, pada gilirannya mesin bisa lebih hebat dan berkuasa atas diri kita. Atau seperti televisi yang dibuat oleh manusia sendiri, ia akan hidup lewat remote control yang berada dalam tangan kita, tapi dia bisa lebih kuat mengatur hidup kita. Disanalah kita dalam keadaan “menentukan” dan “meminta”. Begitulah iblis diri dan hawa nafsu. Siapa yang selalu menuruti keserakahan hawa nafsu, dialah yang tengah membesarkan iblis dalam dirinya. Jika ia sudah tumbuh besar, apalah daya untuk melumpuhkannya. Meskipun hanya setitik iblis dipatuhi, tentu akan demikian merusak seluruh fitrah baik kemanusiaan kita. Tak hanya secara personal, tapi kerusakan sosial.
Bayangkan saja, seperti halnya oknum pejabat setitik, rusak pejabat semuanya. Kebaikan semua ditentukan oleh kebaikan individu. Citra universal ditentukan oleh kepingan-kepingannya. Begitupun dengan iblis. Sekali saja ia menguasai diri kita, mempengaruhi kita untuk berbuat jahat, maka rusaklah keseimbangan diri. Akibat lain, kepercayaan orang lain pada kita akan susah untuk tumbuh kembali. Itu dikarenakan perbuatan yang didasari hawa nafsu yang tak dikendalikan. Hawa nafsu yang hari demi hari dimanjakan, hari demi hari ditumpuk, maka lama-lama jadi bukit yang akan membuat kita tak berdaya. Hawa nafsu dan iblis itu seperti seseorang yang lapar dan butuh teman ngobrol. Jika kita malah memberinya makan dan mengajaknya asyik ngobrol, dia akan merangkul kita demikian erat, menikam kita dari belakang dan menolak sujud pada hati nurani kita. Disanalah, ia menggantikan segalanya, menggantikan kebaikan, moralitas, Allah dan rasa kemanusiaan. Ia menjelma kesombongan kita, keserakahan kita, kezaliman kita.
Tapi, selama kita tak memilih untuk terus menyalakan api iblis dalam diri, maka dengan sendirinya ia akan padam. Iblis itu bukan attack, tapi demand, request. Keadaan dirilah yang senantiasa harus ditaklukkan, dipadamkan, diatur. Karena manusia hidup dalam proses memahami dan mengatur dirinya sendiri. Orang berkelahi karena ia tak mampu menahan marah. Atau ada orang mati karena ia memutuskan untuk tak makan selama berhari-hari. Malam ini begadang atau tidak, tentu saja tergantung kita. Kita punya pilihan bebas, tapi memerlukan tanggung jawab, mengandung resiko.
Walhasil, iblis adalah potensi manusia yang cenderung merusak. Ketidakmampuan untuk me-manage potensi itu akan membuat kita melakukan hal-hal buruk. Kesadaran akan akibat disertai pemahaman moral yang baik dapat mencegah kita melakukan hal-hal buruk. Jika mencuri itu mengakibatkan diri dan orang lain rugi, maka tak perlu. Jika korupsi itu dapat merugikan dan menyengsarakan banyak orang, maka hentikan. Iblis bukan the other, ia adalah bagian dari diri kita sendiri, dahaga hasrat kita, runcing hawa nafsu kita. Sepanjang hidup, kita terus berkelahi dengannya. Sepanjang hidup, kita harus mengaturnya, mampu menahan diri, mengalahkannya…

Masihkah Buku digunakan

BUKU adalah jendela dunia. Pepatah itu yang sering dibaca siswa ketika memasuki perpustakaan sekolah. Dengan semangat ingin tahu atau entah dengan motif apapun mereka pergi ke perpustakaan untuk memilih referensi dan bahan bacaan yang dikehendaki.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kehidupan yang global semakin memudahkan transfer informasi dari sumber mana pun. Sumber online menjadi lebih populer karena mampu memberikan hasil secara langsung segala bentuk informasi yang dibutuhkan pengakses internet. Internet tidak hanya menjelma sebagai jendela, tetapi sudah menjadi gerbang bagi manusia untuk membaca dunia. Dikenallah dunia maya atau cyber space melalui berbagai jejaring sosial seperti yahoo messenger, friendster, blogspot, wordpress, twitter, hingga facebook. Tanpa disadari, minat baca konvensional masyarakat semakin berkurang dan eksistensi buku di perpustakaan mengalami degradasi bagi para pembacanya.

Seperti yang dikutip dari harian Kompas, 26 Maret 2011, Buku, sastra, dipercaya sebagai simbol tingkat peradaban bangsa. Namun, nasib Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin di kompleks Taman Ismail Marzuki sungguh mengenaskan." Pusat-pusat dokumentasi yang dibangun oleh tokoh-tokoh penting di negeri ini ternyata bernasib sami mawon. Kenyataan ini membuat gemas sejumlah pecinta sastra yang menelurkan gerakan penggalangan simpati, termasuk melalui media sosial. Kenyataan itu juga membuat kita bertanya, masih adakah pesona keasyikan membaca di perpustakaan bagi anak-anak sekolah?

Pertanyaan dari kutipan berita tersebut menyiratkan bahwa minat baca konvensional dengan pergi ke perpustakaan sudah tidak lagi favorit bagi anak-anak sekolah. Warnet (warung internet) yang pertumbuhannya semakin meningkat dan didukung oleh lokasinya yang selalu berdekatan dengan institusi pendidikan, membuat para pelajar lebih mudah menjangkaunya. Selain lebih menyenangkan, warnet memberi peluang atau kesempatan lebih besar untuk mengetahui wawasan dunia dibandingkan perpustakaan.

Sayangnya tidak semua situs yang ada di internet layak untuk dijelajahi, khususnya bagi pelajar. Situs-situs yang mengandung unsur pornografi atau yang membuat ketagihan, seperti game online, sulit dihindari sehingga mampu mematikan fungsi syaraf otak untuk berpikir. Hal seperti ini  mampu menghambat proses penggalian wawasan dan merusak moral bangsa sedikit demi sedikit. Apalagi tidak ada kontrol khusus untuk pelanggan warnet dari pemilik warnet atau yang biasa disebut server. Oleh karena itu, pengguna internet yang dalam hal ini disebut user, harus memiliki kebijaksanaan sendiri dalam menggunakan fasilitas internet dengan baik dan benar sesuai kebutuhan. Melihat posisi strategis warnet yang mampu menggeser eksistensi perpustakaan, maka perlu adanya suatu upaya agar perpustakaan kembali diminati oleh para pelajar.

Ada banyak metode yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali budaya membaca buku dan sastra. Saat ini, konsep free wifi zone dan mini cafe yang diterapkan perpustakaan di perguruan tinggi sudah mulai populer. Selain memang atas dasar kebutuhan mahasiswa, dekorasi ruang baca yang nyaman dilengkapi dengan free wifi zone dan mini cafe merupakan pesona tersendiri bagi perpustakaan, seperti kata pepatah, ”Ada gula, ada semut.”

Apabila konsep ini diturunkan di lingkup sekolah baik tingkat SD, SMP, maupun SMA, usaha peningkatan gemar membaca buku dapat dipastikan berhasil. Ini adalah metode pertama. Namun untuk menghindari eksklusivitas individu masing-masing, wifi bisa diganti dengan sejumlah seperangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Tujuannya agar siswa yang datang ke perpustakaan dengan tujuan ingin online mau mengantre dengan siswa yang lebih dulu datang. Dari aktivitas mengantre tersebut, siswa akan merasa jenuh dan biasanya mencari hal lain yaitu buku-buku bacaan yang ada di sekelilingnya untuk mengatasi rasa bosannya itu.

Metode kedua, pihak sekolah mengadakan kerja sama dengan warnet terdekat untuk menyediakan rak atau tempat strategis lain seperti dinding misalnya, yang memungkinkan diadakannya perpustakaan kecil. Sekolah menyuplai buku-buku sastra, majalah, dan koran agar dapat menarik perhatian pengunjung warnet. Setidaknya, pengunjung warnet yang sebagian besar adalah pelajar daerah sekitar tertarik untuk membaca dan melihat-lihat isi dari buku yang ada meskipun hanya sekilas. Dengan begini, selain warnetnya diuntungkan karena pengunjung maupun pelanggan yang datang bertambah, peran sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa juga tetap berjalan.

Dalam berperilaku sehari-hari, Muk Kuang dalam bukunya Think and Act like a Winner berkata, ”First we form habits, then they form us. Conquer your bad habits, or they will eventually conquer you.” Peran penting sekolah tidak hanya pada pendidikan intelektual tapi juga karakter. Sekolah yang dalam hal ini memiliki tanggung jawab penuh dalam pengembangan kapasitas siswa, harus mampu mengetahui segala yang dibutuhkan peserta didik. Tidak hanya sekedar memfasilitasi, tetapi juga harus memperhatikan kondisi kekinian yang menjadi kebiasaan subyek yang menggunakannya agar dapat mempertahankan efektivitas dan eksistensi fasilitas yang ada.

Sekali lagi, ”Buku, sastra, dipercaya sebagai simbol tingkat peradaban bangsa.” Oleh karena itu, diharapkan segenap masyarakat Indonesia khususnya para pelajar mulai mencintai buku maupun sastra agar dapat memahami tingkat perkembangan peradaban bangsanya sendiri.

Dilema Mahasiswa


SAAT kita mendengar kata mahasiswa, hal yang pertama muncul dalam benak kita adalah seorang akademis, atau lebih sederhana orang yang berkecimpung dengan kegiatan belajar di bangku perkuliahan. Jika kita menengok dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa berarti orang yang belajar di perguruan tinggi. Jika kita bertolak pada pengertian ini maka tampak nyatalah bahwa seorang mahasiswa adalah manusia yang masa hidupnya tidak jauh dari dunia perkuliahan. Mungkin lebih dari itu mahasiswa adalah orang yang sibuk berkutat dengan dunia kampus.

Jika kita mencoba menilik kepada realitas yang ada di negeri kita, kita akan mendapati bahwa mahasiswa tidaklah hanya manusia yang sibuk dalam dunia perkuliahan. Mahasiswa di Indonesia juga berperan sebagai salah satu kontrol sosial yang sangat efektif dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Kita tengok saja bagaimana lengsernya dua presiden ini lengser, hal itu tidak bisa lepas dari peran mahasiswa yang sangat besar. Di sini kita dapat melihat bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi stok pekerja yang disiapkan, dididik di kampus-kampus, namun lebih dari itu mahasiswa adalah salah satu motor penggerak dinamika berbangsa dan bernegara.

Dari fakta di atas kita bisa membentuk sebuah hipotesis bahwa mahasiswa di Indonesia memiliki andil besar dalam perjalanan bangsa. Mahasiswa di negeri ini tidaklah perlu menunggu hingga mereka lulus kuliah baru mereka akan bertindak terjun langsung dalam masyarakat. Pada kenyataannya peran mahasiswa sebagai kaum akademisi amat diperlukan untuk menggerakkan roda penggerak kemajuan bangsa.

Di negeri kita, peran serta mahasiswa sangat diharapkan untuk membantu masyarakat, menularkan ilmunya sekaligus wujud aplikasi ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. Jika kita menggunakan teori memori, masa saat mahasiswa turun langsung inilah masa emas karena ilmu yang mereka terima langsung bisa diaplikasikan tanpa membuang waktu yang justru mungkin akan mengikis ingatan tentang ilmu yang mereka dapatkan di perkuliahan.

Saat ini saya berada di dunia perkuliahan, sepertinya saya merasa berada di antara dua kutub yang berlainan. Di satu sisi, saya bertemu dengan kelompok mahasiswa yang aktif dalam dunia perkuliahannya sehingga disibukkan dengan membaca buku-buku tebal yang menyita tenaga jika kita membawanya. Atau juga ada kelompok mahasiswa lain yang sibuk dalam kegiatan amal terjun langsung ke masyarakat. Namun, masalahnya, kelompok kedua ini terkadang mengabaikan dunia perkuliahan sehingga kapasitas keilmuannya menjadi kurang yang tentunya sangat disayangkan jika berbagi ilmu yang tidak lengkap kepada masyarakat yang haus akan ilmu.

Kelompok ketiga adalah kelompok mahasiswa yang menurut saya sangat memprihatinkan. Mereka tidak berada pada salah satu dari kedua kutub di atas. Mereka malah disibukkan dengan hal remeh temeh sekedar mencari pacar saat kuliah atau mengisi waktu luang dan sebagainya. Sangat miris tentunya jika kita melihat kondisi seperti ini. Padahal, harapan besar berada di pundak para mahasiswa, namun justru mahasiswanya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang membuang waktu dan tidak mendatangkan manfaat.

Sebagai mahasiswa yang menuntut ilmu tentu kita harus senantias ingat apa sebenarnya tujuan kita berada di kampus. Tujuan kita adalah menuntut ilmu, menuntut ilmu yang nantinya akan kita bagi dengan orang di sekeliling kita. Mahasiswa perantauan khususnya, tentu mereka telah berangkat dengan tanggung jawab besar untuk menuntut ilmu yang bisa membawa manfaat bagi daerahnya kelak. Jika kita mengingat bagaimana langkah awal kita menjejakkan kaki di kampus dan meninggalkan rumah, adakah kita rasakan tanggung jawab yang ada di pundak kita? Tanggung jawab untuk menuntut ilmu, menuntut ilmu yang tidak semata-mata menuntut ilmu untuk kebutuhanmu.

Wahai mahasiswa tuntutlah ilmu untuk dirimu dan orang-orang yang berada di sekitarmu. Tuntutlah ilmu yang membawa manfaat untukmu dan membawa manfaat besar bagi lingkunganmu, yang telah menaruh harapan besar di pundakmu. Harapan besar untuk membawa kemajuan bagi lingkungan di sekitarmu, dan lebih dari itu, membawa kemajuan di mana engkau dilahirkan. Tanah Air

Leadership skull Mahasiswa dalam Kepemimpinan

SALAH satu metode yang harus dilakukan Indonesia untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara lain adalah membangun gerakan budaya kewirausahaan yang dilakukan bersama-sama antara pemerintah, akademisi, dan tokoh sosial. Tindakan penumbuhan koperasi, usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah (UMKM) sebagai penopang utama perekonomian Indonesia merupakan tindakan utama yang harus dilakukan dalam gerakan budaya kewirausahaan.

Pelaku UMKM yang mencapai 99 persen dari total 52,769 juta pelaku usaha di Indonesia inilah yang berhasil mengeluarkan Indonesia yang terus mendera sejak 1998. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, secara umum jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Agustus 2010 mencapai 116,5 juta orang atau bertambah sekitar 530 ribu orang dibanding Februari 2010 sebesar 116,0 juta orang. Tentu saja perbaikan ini tidak terlepas dari peran pelaku UMKM.

Namun, sarjana -diharapkan menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan− yang menganggur di Indonesia sedikitnya tercatat 626.000 orang (BPS 2010). Hanya kemampuan wirausaha yang bisa mempercepat bangsa ini menyelesaikan kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat, terlebih kewirausahaan sosial dalam bidang pertanian (socioagropreneur).

Untuk mendorong keinginan pemerintah meningkatkan perekonomian nasional, mengurangi pengangguran, dan menyelesaikan masalah kemiskinan, jumlah wirausaha ditargetkan minimal dua persen dari total penduduk Indonesia. Peran mahasiswa pertanian sebagai calon pemimpin bangsa di masa mendatang sangat besar, salah satunya upaya pengentasan kemiskinan melalui kerjasama budidaya ikan nila dengan petani ikan yang mengalami kesulitan modal.

Peluang budidaya ikan nila sangat besar. Data menunjukkan pada tahun 2005, tingkat konsumsi ikan masyarakat di Indonesia mengalami kenaikan yakni dari 25,03 kg per kapita per tahun pada tahun 2006 menjadi 25,8 kg per kapita per tahun pada tahun 2007. Angka ini masih dibawah standar kecukupan pangan untuk ikan yaitu sebesar 26,55 kg per kapita per tahun. Sedangkan untuk pasar ekspor, salah satu pasar yang paling potensial adalah AS  dengan rata-rata ekspor 8.000 ton ikan nila per tahun (Agrina, 5 April 2007).

Lantas, bagaimana keadaan para petani ikan nila sehingga perlu melaksanakan program sosioagropreneur  kepada mereka? Penjelasan Hartyo (2010) tentang keadaan petani ikan di Bogor tentu bisa menjadi pertimbangan. Dia menjelaskan masih banyak keluarga petani ikan −dalam hal ini petani nila− yang mengalami defisit pendapatan. Rata-rata pendapatan per kapita per bulan pada kelompok keluarga pembudidaya ikan hanya Rp498.649,60. Sedangkan, pengeluaran per kapita per bulannya sebesar Rp419.639,30 − Rp510.700,10.

Hal ini mengindikasikan masih banyak keluarga yang angka kesejahteraannya belum layak. Permasalahan ini tentu saja menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi memperluas usahanya.

Socioagropreneur budidaya nila bertujuan menghasilkan karya yang dapat merubah Indonesia, terutama di kalangan petani ikan nila yang kekurangan modal dan tidak memiliki daya jual tinggi serta kalangan mahasiswa sebagai akademisi dan calon pemimpin bangsa. Program kerja sama antara mahasiswa sebagai pemasok bibit beserta pakan dan petani ikan sebagai pemilik kolam yang memiliki pengalaman di lapangan diharapkan mampu mengenali adanya kemandegan dalam kehidupan petani nila.

Hal ini dilakukan dengan menemukan disfungsi sistem, kemudian menyelesaikannya dengan merubah sistem tersebut dan sejalur dengan menumbuhkan kepercayaan diri petani dalam mengembangkan usahanya. Selain itu, program ini efektif dalam mendorong mahasiswa untuk berwirausaha dan memimpin di tengah kesibukannya sebagai seorang akademisi.

Entrepenuership solusi permasalahan Bangsa Indonesia


Negara Indonesia adalah negara yang memiliki potensi sumber daya yang sangat melimpah ruah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Adapun beberapa keunggulan dan potensi negara Indonesia.

Pertama, dari segi wilayah. Wilayah Indonesia memiliki wilayah yang begitu strategis berada di antara dua benua dan dua samudera dan berada dibawah garis katulistiwa. Wilayah Indonesia yang luas juga menjadikan Negara Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu melimpah. Mulai dari tambang, minyak, rempah-rempah dan pangan banyak terdapat di Indonesia. Kita ambil contoh saja salah satu sektor potensial yang ada di Indoneisa yaitu sektor pertanian. Sektor ini sangat berpotensi karena  kondisi tanah di Indonesia yang begitu subur, dan iklim trofis yang memungkinkan dapat ditanami berbagai macam tumbuhan. Sedangkan dari sisi kelautan dan kehutanan, luas lautan Indonesia yang begitu luas hingga 70 persen luas Indonesia secara keseluruhan dan luas hutan Indonesia yang sangat lusanya sehingga dijadikan biopori dunia.

Kedua, dari segi jumlah penduduk. Indonesia adalah Negara keempat terbesar di dunia dan umat Islam terbesar di dunia. Secara umum  tingkat populasi di Indonesia sangat besar yaitu mencapai 237 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1.49% per tahun. Tentunya ini sangat berpotensi jika seluruh potensi sember daya manusia ini di dikelola dengan baik.

Sayangnya saat ini Indonesia haya dapat menghasilkan 33,33% SDM yang kompeten di bidangnya dan masih sangat kurang untuk mengelola SDA yang melimpah ruah. Ketiga, karakter bangsa. Indonesia memilki karakter yang berbeda yaitu rela berkorban dan berjuang terutama dari pemuda-pemudanya. Karekter bangsa Indonesia yang lain adalah lemah lembut dan sopan santun. Adapun kelemahan Indonesia adalah acuh terhadap satu sama lain dan nafsi-nafsi (merasa aman dan berfikir untuk dirinya sendiri).

Dari uraian potensi dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh Indonesia sudah sepatutnya menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara maju dan berkembang dibandingkan negara lainnya dalam hal pembangunan. Ketika kita berbicara pembangunan dua hal yang terpenting dalam  proses pembangunan adalah leadership dan manajemen. Pengelolaan sumber daya harus dilakukan dengan baik dan benar, harus terorganisir dengan baik dan sistem manajemen yang baik pula. Pembangunan juga harus dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang memiliki Emotional Spiritual Quotient (ESQ) yang baik. Karena apabila pembangunan tidak dilakukan oleh orang yang beriman dan bertaqwa pembangunan tersebut akan menyebabkan permasalahan-permasalahan baru dan tidak menyelesaikan masalah yang ada.

Ketika kita berbicara pembangun di Indonesia social enterpreunership adalah pendekatan  yang praktis, inovatif dan berkelanjutan yang dapat digunakan. Social enterpreunership bertujuan untuk meberi keuntungan kepada masyarakat umum (profit for public) kepada masyarakat marginal dan  miskin. Titik tekan dari social enterpreunership adalah pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri dan meningkatkan ekonomi masyarakat terutama peningkatan ekonomi masyarakat miskin sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan di Indononesia.

Social enterpreuner adalah sesuatu pendekatan unik untuk mengembangkan ekonomi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada terutama permasalahan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Setiap orang memilki solusi kreatif menyelasaikan masalahnya masing-masing dan disini masalah-masalah tersebut diselesaikan bukan oleh pemerintah tetapi mandiri. Pada saat ini Departemen sosial mengadakan suatu program program pemberdayaan pemerintah yang bernama KUBE (Kelompok Usaha Bersama). KUBE adalah program pemberdayaan ekonomi komunitas dimana warga membentuk kelompok yang memiliki anggota sekitar 10 orang dan akan diberikan dana hibah oleh pemerintah untuk mengembangkan usahanya sehingga menjadi pengusaha yang dapat mandiri dengan metode pengawasan bersama. Kewirausahaan tentunya bukan datang secara tiba-tiba, harus ada perencaan mulai dari menggali kesempatan  dan peluang yang ada, mengembangkan konsep, hingga mengembangkan sumber daya/dana untuk menjalankan proses usaha tersebut. Disini peran mahasiswa dan kaum intelektual di butuhkan, tentunya untuk menjadi pendamping dan pekerja sosial untuk membangun masyarakat dengan dalam mengembangkan jiwa enterpreunernya.  Disis lain, pemerintah hanya dapat membantu  melalui akses pendidikan, pelatihan, permodalan awal (melaui KUBE), dan lanjutan melalui (KUR).

Dalam melakukan pekerja sosial diperlukan disiplin akademis dan professional yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan perubahan sosial. Dalam perakteknya beririsan dengan disiplin ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, psikologi dan sosiologi.  Kaum muda sebagai wirausaha sosial diharapakn dapat menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar, membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran, menekan angka kemiskinan di Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 14.15% dengan pendapatan perkapita sebesar Rp 200.262/bulan serta memperkuat sektor pertumbuhan ekonomi baru. Dengan adanya tindakan tersebut dapat menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang maju, mandiri, sejahtera, lebih baik dan bermartabat.

Membangun Bangsa dengan Membaca


BACALAH dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al Alaq 96 : 1-5)

Membaca adalah perintah pertama Tuhan. Perintah ini pertama kali datang perintah-perintah yang lain. Perintah ini datang sebelum perintah sholat, zakat, puasa dan haji. Perintah pertama tuhan pada Nabi ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Kenapa perintah membaca dijadikan awalan dan pijakan? Saya pikir ini yang penting untuk diungkap, dicerna, dimaknai oleh kita umat yang diperintahkan pertama kali untuk membaca.

Baca, baca, baca, baca, baca...  Itulah kunci awal memahami hakekat yang lebih besar dan luas. 

Kita mungkin sudah lupa kapan kita benar-benar bisa mengeja kata-demi-kata. Tapi kita pasti pernah merasakan bagaimana belajar membaca yang dimulai dari belajar alfabet, dari huruf A hingga Z. Pelajaran berikutnya, merangkai huruf. Biasanya dimulai dari huruf-huruf hidup yang tidak perlu dimatikan di akhir atau di tengah kata atau kalimat. “Ini budi” adalah salah satu contoh yang paling kita ingat dalam semesta pelajaran membaca.

Tapi tahukah kita bahwa dengan membaca kita sebenarnya sedang memulai pelajaran penting tentang sebuah peradaban? Dengan membaca kita sedang masuk dalam ruang rahasia yang penuh dengan pengetahuan. Ruang yang diciptkan untuk kita agar kita pandai bersyukur terhadap segala nikmatNya. Dengan membaca kita diajak untuk mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Sehingga kita tidak mengulangi kesalahan orang-orang terdahulu sebelum kita.

Dari proses belajar membaca per huruf, lalu per kata, lalu per kalimat, hingga pada akhirnya kita bisa membaca buku tebal yang berisi aneka pengetahuan, novel, atau karya agung penulis masa lampau. Kita sesungguhnya tidak boleh melupakan para pengajar atau pendidik kita di TK atau SD yang pertama kali mengajarkan huruf pada kita. Sebab, karena merekalah kita mengetahui huruf, bisa membaca, dan mengenal pengetahuan yang sangat luas ini.

Pengajaran pertama adalah membaca? Dan itu adalah pengajaran tuhan bagi manusia!
Ingatlah, tuhan juga memberikan kemampuan berpikir bagi manusia. Kemampuan yang tidak setiap makhluk mendapatnya. Kemampuan yang membuat manusia bisa mengetahui sesuatu yang tidak diketahui malaikat. Kemampuan yang juga terkadang dipergunakan manusia untuk menyusun rencana-rencana jahat.

Pernahkah kita berpikir mendalam, kenapa tuhan memerintahkan kita untuk membaca. Adakah karena hanya agar umat Islam menjadi kaum yang pandai? Ataukah ada alasan lain ?

Yang jelas, dengan membaca, baik yang tertulis maupun tidak tertulis sebagai teks. Kita akan memiliki pengetahuan yang luas. Dengan pengetahuan yang luas kita akan sanggup memilah dan memilih serta menentukan yang sekiranya baik. Dengan keluasan ilmu pengetahuan, seorang manusia akan memiliki kecakapan untuk bijak dan memiliki toleransi yang kuat dalam menyikapi setiap fenomena kejadian.

Dengan bekal ilmu pengetahuan seorang manusia akan lebih mudah mengayuh hidup. Karena dengan ilmu seseorang tahu cara yang lebih efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan ilmu juga manusia menjalankan ibadah dengan benar. Karena kekuatan ilmulah seseorang akan dipandang sebagai ahli dalam spesifikasi keilmuaan tertentu. Bahkan karena ilmu pulalah Allah Swt akan meninggikan derajat anak manusia.

Dengan membaca kita akan mendapatkan ilmu yang memperkaya cara pandang, membuat pola pikir yang rasional, luas dan berwawasan. Karena dengan ilmu kita akan mudah menggapai apa yang kita inginkan. Ilmu adalah senjata bagi manusia yang ingin sukses di dunia dan akhirat. Kenapa itulah perintah membaca diletakkan di awal, sebagai permulaan perintah bagi umat manusia.