Selamat Datang di Blog yang Sederhana ini

Selamat Datang di Blog yang Sederhana ini
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

Mimpi mulai pudar

Saat ini 
Dibawah hamparan gelap luas yang bertabur bintang
Aku menatap satu bintang yang paling terang
Aku menatapnya dengan penuh harapan
Seolah itu kau
Yang kini jauh seakan hilang..

Selama ini
Aku mencoba tuk selalu mengerti hatiku
Namun ternyata semua masih semu ku rasakan
Nama yang terukir dalam karang hatiku
Kini seakan terkikis
Oleh ombak yang menghantam..

Aku dan jenuhku, Bersamaan membisu
Terlalu jauh untuk maraih bintang yang sedang ku tatap
Aku dan senyumku
Mengikuti diam termenung
Namun tercipta sebuah mimpi
Yang hilang hanya dalam sekejap



Aku terus mencoba bertaham 
Dalam kehidupan yang fana
Aku terus menjadi seorang
Yang terasa semua mati dan terkikis
tak kala terus termakan waktu


mimpi mulai hilang
mimpi mulai pudar 
kala itu ku tutup semua tentangmu

Dikala Senja


Kepada senja aku mengadu
Menangisi kepergianmu dari hidupku…
mengapa bahagia itu hanya sesaat saja..
Laksana hujan yang terus mencumbui bumi…
Laksana gerimis yang selalu mendekap pagi..
Aku disini terpaku dalam diam..

Kepada senja aku mengadu..
Betapa pedih hatiku ini
Kau menghilang bak ditelan bumi..
Hanya goresan kecil yg menyayat kalbu..
kau tancap dalam pilunya hatiku…
Bahwa kau tak bisa mencintaiku…

Kepada senja aku mengadu
Rindu ini menghujam jantungku
Bagai ombak besar yg menghantam dadaku
Hingga aku tak bisa bernafas karena desakan
rasa rindu yg sangat kuat…
Oh cinta mengapa taqdirnya begitu kejam..
Kau berikan aku dia tp kau sekap dia dalam kesunyian malam..

Kini aku hanya pasrah dalam diam
Hatiku telah membeku dimakan waktu

Makna Cinta


Cinta..
Kau hadir dengan sejuta harapan..
Segenggam impian dan angan,
Janjikan tawa canda penuh bahagia..
Tapi mengapa harus luka yang kudapat??
Kepedihan hati yang tak terobati,
disaat hati ini telah kuyakini..

Diantara bintang aku bertanya..
berbiaskan cahaya rembulan..
Apakah ini yang namanya cinta??
Indah yang sekejap mata..
namun sakitnya tak terhinnga..
Kata-katapun tak mampu wakili..
akan pedih hati ini..

CINTA itu bahagia tapi menyakitkan..
saat kita mencintai, kita bahagia..
saat kita cemburu, kita terluka..

CINTA tak harus memiliki?
“itu bohoong !!
semua orang ingin memiliki, bahkan kadang merasa harus memiliki..

Dengan melihat orang yang dicintai bahagia, kita pun bahagia?
“bohoong”!!!
kita hanya pura2 bahagia,,
di saat hati kita sakit, itu mengajarkan kita untuk menjadi MUNAFIK..

Lebih bahagia dicintai dari pada mencintai?
“itu salah”!!!
saat di cintai kita hanya merasa bangga,
namun saat mencintai kita dapat merasakan arti bahagia sesungguhnya..

Jumat, 13 April 2012

Sendiri

ketika sinar rembulan pucat sosok rindu tanpa sayap terbang kelangit malam
gelap mata gelap hati membuat ia lupa dengan dimana tempat ia tinggal gelap malam menghapuskan arah dan tujuan sementara dingin sunyi menjadi saksi
jiwa-jiwa yang kedinginan terperosok dalam jurang malam dalam sedalam hatimu
debur ombak dipantai gerokgak menghantam jiwaku tapi tak mampu goyahkan sunyi angin menyapa menyambut jiwa tapi tak mampu pecahkan keheningan malam sepi tanpa keheningan sunyi tanpa kebisuan disitu aku terdampar sendiri dan sendiri menapaki kerinduan...

Terlukis Bintang

Di kanvas ini aku mengembara: langit tanpa tepi
kulukiskan bintang-bintang, bertaburlah sinarnya mengisi semesta
setiap bintang adalah nyala yang terus mengembara
seperti cinta tak mengenal padam, selalu gairah selalu membara.

Tatapanmu indah dalam hening: malam sebening telaga
senantiasa berseri, mata baiduri yang kutatap secara sempurna
ada jejak bintang di ekor matamu, meteor-meteor terjun ke hatiku
di bawah hujan cahaya, kuhabiskan malam bersamamu.

Kamulah bintang di hatiku paling terang
makanya galaksi indah tanpa lelah kukarang
hatimu horison segala pengembaraanku menepi segalanya sampai.

Bukankah cinta itu ledakan besar
yang mengawali ritus kebersamaan kita, memancar
ke penjuru semesta. Memancar sepanjang masa.

Pelangi langit ke-7

Pelangi berkilau di langit ke-7
teduh mengambang menjalin untai gerimis
gradasi warna adalah selendang para bidadari
yang menarinari digelitik angin bukit
dan kamu, yang turun ke dalam jiwaku.
Sungguh indah rahasiamu
semburat merah di wajahmu. Cinta itu. Di senja itu
pohonpohon waru berebut menjadi bayanganmu
lalu melukisnya di dadaku. Untuk kudekap
agar cinta tak ke manamana dari hatimu.
Jangan lagi kaurisaukan
cinta ini hanya berakhir di hatimu
sungai yang mengalirkan kejernihan jiwa
melewati rimba waktu dan padang penuh bunga
aku, yang selalu hanyut bersamamu

1000 Puisi

Lihatlah gerimis berbaris di tipis senja
di taman itu,terlihat mentari menari
di atas daundaun basah
aku hanyut pada parasmu yang basah.

Tiada yang sungguh indah dari cakrawala cinta
dalam dimensi keindahan
ketika bening tetes hujan menggenang lekuk merah bibirmu
senyum terpancar, mataair dengan sekuntum omega
mengalir hening ke relung sukma.

Ada seikat pelangi di balik gerimismu
cahayanya terurai dalam lariklarik puisi
bercucuran di sudut matamu
melukiskan berjuta pixel warna cinta
dalam lembaran kertas yang bertuliskan kata cinta

CINTA

Seandainya matahari kauberitahu indahnya malam, apakah ia akan datang kemari? Melihat bintangbintang sambil berbaring di ataspadang lllapang bunga rumputan. Tetapi engkau hadir di sisiku dengan bara melampaui hangatnya matahari. Embun yang turun pun menjelma api, membakar sukma yang hanyut di sudut mataku.
Tak ada puisi di lambang senja itu jika kau tak membisikkannya untukku, membangunkanku dari tumpukan kertas mimpi dlam sebuah ilusi. Engkau menggelitik ujung penaku menggoda setiap kata untuk menari bersamamu, mengelilingi api unggun terbakar dan berterbangan menjelma bintangbintang. Lihatlah hurufhuruf cinta itu menyusun dongeng di cakrawala
dan terukirlah sebuah kata penuh makna C.I.N.T.A

Kutemukan cinta dalam sebait puisi

Tetes hujan yang melambai di kaca jendela ia mencari alamat sungai. Aku mencari alamat hatimu. Kutemukan telaga: sebuah genangan sunyi, tanpa ombak tanpa nyanyi, lalu kutenggelam dalam bening puisi. Itulah yang istimewa tentang dirimu, ketika segayung hujan membasuh telapak tanganmu, aku terhanyut di situ, lautan teduh dekapanmu. Maka aku menyamar hujan, memelukmu deras, mencium parasmu dengan kecup rintik yang tak pernah tuntas.
Di telapak tanganmu aku mengembara tanpa berhenti, menyusuri garisgaris sungai keberuntunganku. Setiap garis adalah makna. Membawaku pada muara bernama cinta. Aku di situ melukis sawahsawah yang menguning dengan jejak hidupku. Rerumputan, ilalang, kenangan, dan bunga-bunga rindu. Airmata dan semesta. Hujan dan doa. Membentangkan tenda cahaya tempat kita menghabiskan waktu dan bara. Setiap bintang adalah karunia. Setiap titik waktu yang aku petik untukmu.
Aku ingin menulis seperti sebaris embun yang kauselipkan pada seliris kuntum di bibirmu. Cukup manis walau hanya sebait senyum. Kutahu, puisi tak selalu tercipta dari kata. Tetapi hanya dengan kata kumampu menceritakan puisi ini padamu.

Hujan

Hujan rintik-rintik membasahi bumi
gerimis yang berteduh di pinggir jendela
seperti sedang memanggilmu
menyampaikan sesuatu
bukalah kaca basah itu dan biarkan ia masuk
mungkin ia ingin menangis di pelukanmu.

Matahari rupanya datang menjemput
dengan pancaran cahaya yang terang
diketuknya pula kaca dengan cahayanya yang lembut
gerimis yang rindu wajah itu hanya bisa tersipu.
menatap jendela yang berselimut kalbu
Kulihat pelangi mengambang di jendela.

Peristiwa di atas berulang
setiap kali aku marindukanmu di pagi menjelang
kau memandang ikhlas dengan sekuncup doa
kautanamkan kembang di sudut mataku
terhias indah dalam bola matamu

Selasa, 10 April 2012

Senja di Sore itu Part 2

Matahari berkilauan di daundaun kamboja
menari di antara genangan jingga
sebentar lagi malam menjelang
merekam jejak kita tanpa cahaya bulan
atau hanyut bersama kelam.

Tapi lirih suaramu seperti rinai hujan
seperti jejak yang membekas di rerumputan
mengajakku tenggelam
derai airmatamu kembali berkilauan
menggenangi tubuhku dengan kenangan.

Bukankah senja telah mengubur semua yang silam
kenangan yang sulit terlupakan
malam datang dengan menggenggam rembulan
menyiapkan tempat untuk kita pulang
kau pergi ke duniamu
dan aku ke duniaku
lalu kita saling berpegang tangan
terbuka dimensi portal dalam bayangan
bintang-bintang yang ada di mata kita
saat aku sadari kau telah tiada lagi.

Senja di Sore itu

hamparan padang ilalang terkikis senja dihari itu
saat mata tertuju pada sosok indah
tampak bayangan menerpa sosok itu
kemudian angin membelai diriku
terasa dingin menusuk lapisan kulit
aku masih termenung dalam senja ini
terpaku dihamparan padang ilalang
kala sang rembulan pupus, sang bintang bercahaya
ketika hujan turun dan temurun ke relung kalbu
dengarlah nyanyiannya mewakili sajak-sajakku
susah payah kurangkai ribuan bait
agar kau dengar lebatnya kalimat rindu
tiada henti berkilatan dalam batin
rasakan gemuruhnya dalam erat dekapanku.

rintik menitik air berjatuhan, desau angin berbisik sayup di dahan
basah dedaunan, basah bunga-bunga, basah seluruh pelataran
jejakjejak kita bermekaran dalam genangan
pada kata cinta kutemukan airmata netes perlahan
lalu kaubiarkan wajahmu kuseka dengan kecupan.

Tiap hujan kita melangkah di celah gemuruhnya
mendengarkan deru hujan merasakan angin menari dan bercanda
kadang kita tembus derasnya dengan terguyur dalam mesra
berguncang-guncang jejak air di atas payung kita
iramanya seperti derap sajak menyusun bait cinta
begitu lembut begitu merdu begitu syahdu.

Kita mensyukuri hujan. Kita jatuh hati pada hujan
hujan menghapus debu-debu bimbang di kelopak-kelopak kembang
mengubah catatan lara menjelma loncatan airmata bahagia
bertaburan rintiknya menggenangi jejak-jejak kita
hujan turun dan cintaku menuliskan tetesnya di hatimu
berkaca-kaca tatapanmu. Biarkan cinta menitik abadi.

?

untuk apa diri ini termenung
demi siapakah hati berseru
dimana lagi harus kucari bayangmu
sampai kapan kuharus menunggu
ku berpikir bagaimana melupakanmu
dalam hatiku aku bertanya
mengapa kau pergi jauh tinggalkan aku
dalam kesuyian jiwa aku terus mencari
jawaban apa yang yang kunanti
untuk obati perih rindu dalam hati
dibawah teriknya sang surya aku menanti
wahai dier penyejuk hati
sekian lama bayang terus berlalu
tak satu kata terucap dari bibirku
hingga kini ku belum temukan jawaban
apa yang selama ini aku cari
aku tak akan menyerah
meski raga ini lelah
raga yang penuh rasa bersalah
raga yang selalu kalah
saat berperang melawan amarah
tapi terus kujalani langkah
walaupun tanpa arah